Oleh : Advan Navis Zubaidi,
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, UINSA
Beberapa bulan terakhir pemutaran film
’Senyap’ marak dilakukan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya,
Yogjakarta, Malang, dan Medan. Di beberapa tempat film ini dicekal
karena muatannya yang banyak menebar kebencian, dan dikhawatirkan justru
memicu konflik horizontal. Di Malang, film ini dilarang diputar oleh
Kodim setempat, di Yogya pun sama. Film ini mendapat perlawanan dari
beberapa kelompok saat diputar di ISI dan UGM. Yang menarik, justru
ketika film ini dicekal dan banyak diperbincangkan, semakin membuat
masyarakat penasaran untuk menonton. Ujungnya, pembuat film lah yang
diuntungkan dengan publikasi gratis.
Rasa penasaran saya tentang ‘Senyap’
terjawab ketika saya diundang untuk menjadi pembicara dan membedah film
ini dari perspektif media dan agama. Pada kesempatan ini pula saya
menonton secara utuh dari awal sampai akhir. Kesimpulannya, menonton
film ini harus cerdas, harus punya bekal wawasan tentang media yang
baik. Dikhawatirkan, jika film ini tersebar dan ditonton luas oleh
generasi muda yang bukan pelaku sejarah, generasi ketiga yang hanya
mengetahui penggalan sejarah yang tersaji parsial, maka besar
kemungkinan memicu sinisme terhadap Islam. Islam dan NU yang menjadi
bagian dari sejarah kelam PKI pada tahun itu akan dengan mudah
terstigmakan sebagai agama yang kejam dan sadis.
Lantas bagaimana sikap kita sebagai
muslim ? tentu tidak harus dengan membuat film baru sebagai tandingan
pembenar. Karena langkah ini hanya akan melahirkan kebencian baru. Namun
ada beberapa hal yang harus kita lakukan.
Pertama, kita sebagai umat Islam harus
cerdas dalam melihat dan mengkonsumsi media. Harus melihat sebuah fakta
yang disajikan media secara berimbang. Sebab, melihat sejarah tidak bisa
hanya sepenggal-sepenggal, harus utuh dan terkait. Oleh sebab itu, jika
kita melihat rangkaian peristiwa PKI dengan latar 1965 pada film
‘senyap’ ini, tentu harus juga membaca runtutan sejarah PKI tahun 1948
dan 1926. Sehingga kita tidak hanya menyaksikan PKI sebagai korban
pembantaian, tetapi juga membuka mata atas apa yang mereka lakukan
terhadap kelompok santri dan ulama di tahun-tahun sebelumnya. Kecerdasan
umat Islam untuk melihat media ini dirasa semakin penting, ketika
beberapa media mainstream mengupas sejarah ini tidak dengan
berimbang. Maka mencari keberimbangan adalah wajib dalam konsumsi pesan
media. Oleh sebab itu, melihat film ini juga harus diimbangi dengan
membaca buku putih NU “Benturan NU-PKI 1948-1965” tulisan Abdul Mun’im.
Membaca ulasan Majalah Tempo tentang pengakuan algojo, juga harus
diimbangi membaca Duta Masyarakat dengan tema ulasan yang sama. Membaca
catatan sejarah Benedict Anderson dan Ruth Mevy tentang PKI di Indonesia
harus juga membaca catatan Harold Crouch dalam ‘Another Look At
Indonesian Coup’, atau Buku Miroslav Vic yang berjudul ‘Kudeta 1 Oktober
1965’. Dengan demikian, keberimbangan atas sajian sejarah akan dapat
tetap terjaga.
Kedua, sebagai muslim (lagi-lagi) harus
paham media. Melek media. Sadar sajian media. William Hoynes dalam
bukunya “Media and Society” mengajarkan, untuk dapat melihat media
secara cerdas. Setidaknya masyarakat menjawab dua dari tujuh pertanyaan
kunci ketika bersentuhan dengan media. Pertama, Who owns the media? (siapa pemilik/dibalik media), sebab dibalik ini ada ideology yang ingin disampaikan. Kedua, How media’s product created?
(bagaimana produk media tersebut dikemas), mengetahui ini juga tidak
kalah penting, sebab disini ada motif dan kepentingan. Joshua
Oppenheimer, produser film ini adalah seorang warga negara Denmark,
menurutnya, film ini dibuat sebagai upaya rekonsiliasi antara muslim dan
PKI yang terlibat konflik pada saat itu. Namun jika dilihat dari isi
film dan bagaimana film ini diproduksi, maka motif menyemai kebencian
baru dan membuka luka lama jauh lebih dominan daripada upaya
rekonsiliasi. Hari ini, muslim dan keluarga eks PKI sudah bisa hidup
berdampingan dalam damai. Seharusnya potret inilah yang dikedepankan.
Insya Allah, berbekal dengan kecerdasan
bermedia yang baik, maka umat Islam akan semakin bijak dalam menyerap
informasi. Tidak mudah terprofokasi, tidak mudah menjustifikasi sesuatu
hanya dari penggalan informasi yang terputus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar