Kamis, 23 Juni 2016

Memangkas Bibit Kebencian

Tidak ada komentar:

Oleh : Advan  Navis Zubaidi,
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi,  UINSA

Sepanjang tahun 2012 sampai 2014, seorang produser film asal Denmark Joshua Oppenheimer berhasil membuat dua film dengan latar tahun 1965. Film yang pertama berjudul ‘Jagal’ (The Act of Killing) diproduksi pada tahun 2012, film ini bercerita tentang para algojo pembunuh PKI di daerah Sumatera Utara. Film yang kedua berjudul ‘Senyap’ (The Look of Silence). Masih dengan tema yang sama, kali ini film ini menjadikan keluarga korban sebagai aktor utama. Kedua film ini mendapat respon cukup beragam, sebagian masyarakat dunia menyambut baik, tetapi tidak sedikit juga yang mengecam. Salah satu bentuk apresiasi yang ditunjukkan oleh dunia adalah memasukkan film ini sebagai salah satu nominasi Oscar 2014 kategori film dokumenter.
Beberapa bulan terakhir pemutaran film ’Senyap’ marak dilakukan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogjakarta, Malang, dan Medan. Di beberapa tempat film ini dicekal karena muatannya yang banyak menebar kebencian, dan dikhawatirkan justru memicu konflik horizontal. Di Malang, film ini dilarang diputar oleh Kodim setempat, di Yogya pun sama. Film ini mendapat perlawanan dari beberapa kelompok saat diputar di ISI dan UGM. Yang menarik, justru ketika film ini dicekal dan banyak diperbincangkan, semakin membuat masyarakat penasaran untuk menonton. Ujungnya, pembuat film lah yang diuntungkan dengan publikasi gratis.
Rasa penasaran saya tentang ‘Senyap’ terjawab ketika saya diundang untuk menjadi pembicara dan membedah film ini dari perspektif media dan agama. Pada kesempatan ini pula saya menonton secara utuh dari awal sampai akhir. Kesimpulannya, menonton film ini harus cerdas, harus punya bekal wawasan tentang media yang baik. Dikhawatirkan, jika film ini tersebar dan ditonton luas oleh generasi muda yang bukan pelaku sejarah, generasi ketiga yang hanya mengetahui penggalan sejarah yang tersaji parsial, maka besar kemungkinan memicu sinisme terhadap Islam. Islam dan NU yang menjadi bagian dari sejarah kelam PKI pada tahun itu akan dengan mudah terstigmakan sebagai agama yang kejam dan sadis.
Lantas bagaimana sikap kita sebagai muslim ? tentu tidak harus dengan membuat film baru sebagai tandingan pembenar. Karena langkah ini hanya akan melahirkan kebencian baru. Namun ada beberapa hal yang harus kita lakukan.
Pertama, kita sebagai umat Islam harus cerdas dalam melihat dan mengkonsumsi media. Harus melihat sebuah fakta yang disajikan media secara berimbang. Sebab, melihat sejarah tidak bisa hanya sepenggal-sepenggal, harus utuh dan terkait. Oleh sebab itu, jika kita melihat rangkaian peristiwa PKI dengan latar 1965 pada film ‘senyap’ ini, tentu harus juga membaca runtutan sejarah PKI tahun 1948 dan 1926. Sehingga kita tidak hanya menyaksikan PKI sebagai korban pembantaian, tetapi juga membuka mata atas apa yang mereka lakukan terhadap kelompok santri dan ulama di tahun-tahun sebelumnya. Kecerdasan umat Islam untuk melihat media ini dirasa semakin penting, ketika beberapa media mainstream mengupas sejarah ini tidak dengan berimbang. Maka mencari keberimbangan adalah wajib dalam konsumsi pesan media. Oleh sebab itu, melihat film ini juga harus diimbangi dengan membaca buku putih NU “Benturan NU-PKI 1948-1965” tulisan Abdul Mun’im. Membaca ulasan Majalah Tempo tentang pengakuan algojo, juga harus diimbangi membaca Duta Masyarakat dengan tema ulasan yang sama. Membaca catatan sejarah Benedict Anderson dan Ruth Mevy tentang PKI di Indonesia harus juga membaca catatan Harold Crouch dalam ‘Another Look At Indonesian Coup’, atau Buku Miroslav Vic yang berjudul ‘Kudeta 1 Oktober 1965’. Dengan demikian, keberimbangan atas sajian sejarah akan dapat tetap terjaga.
Kedua, sebagai muslim (lagi-lagi) harus paham media. Melek media. Sadar sajian media. William Hoynes dalam bukunya “Media and Society” mengajarkan, untuk dapat melihat media secara cerdas. Setidaknya masyarakat menjawab dua dari tujuh pertanyaan kunci ketika bersentuhan dengan media. Pertama, Who owns the media? (siapa pemilik/dibalik media), sebab dibalik ini ada ideology yang ingin disampaikan. Kedua, How media’s product created? (bagaimana produk media tersebut dikemas), mengetahui ini juga tidak kalah penting, sebab disini ada motif dan kepentingan. Joshua Oppenheimer, produser film ini adalah seorang warga negara Denmark, menurutnya, film ini dibuat sebagai upaya rekonsiliasi antara muslim dan PKI yang terlibat konflik pada saat itu. Namun jika dilihat dari isi film dan bagaimana film ini diproduksi, maka motif menyemai kebencian baru dan membuka luka lama jauh lebih dominan daripada upaya rekonsiliasi. Hari ini, muslim dan keluarga eks PKI sudah bisa hidup berdampingan dalam damai. Seharusnya potret inilah yang dikedepankan.  
Insya Allah, berbekal dengan kecerdasan bermedia yang baik, maka umat Islam akan semakin bijak dalam menyerap informasi. Tidak mudah terprofokasi, tidak mudah menjustifikasi sesuatu hanya dari penggalan informasi yang terputus.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top