Senin, 20 Juni 2016

Cahaya di Laut

Tidak ada komentar:
Pernahkah Anda bertanya, kenapa air laut yang jernih berwarna biru kehijau-hijauan? Atau pernahkah Anda bertanya ketika menyelam/menyaksikan tayangan di televisi tentang gelapnya kehidupan di dasar laut?
Misteri cahaya di dalam laut baru benar-benar terkuak pada sekitar abad ke20. Yakni ketika manusia memahami tentang kekuatan spektrum cahaya dan perambatan/penyerapannya pada medium zat cair.
Seperti yang kita ketahui bahwa sinar matahari yang dipancarkan sebenarnya tidak hanya berwarna kuning. Akan tetapi terdiri dari spektrum warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Masing-masing spektrum ini memiliki panjang gelombangnya sendiri. Ketika sinar matahari masuk ke dalam laut, perbedaan panjang gelombang ini mempengaruhi kecepatan penyerapan oleh air laut.
Setiap bertambah 100 m kedalaman air laut, kekuatan cahaya akan terserap sebanyak 1%. Pada kasus ini, spektrum warna merah dan jingga lebih cepat terserap dibandingkan spektrum warna biru dan hijau. Pada kedalaman 100m, spektrum warna lain akan benar-benar terserap hingga tinggal menyisakan spektrum warna hijau dan biru. Hal inilah yang membuat air laut yang jernih terlihat berwarna biru kehijau-hijauan. Apabila kita menyelam lebih dalam lagi, maka cahaya akan benar-benar habis terserap. Artinya, keadaan menjadi gelap. Itulah kenapa, pada penyelam juga dilengkapi dengan lampu bawah air untuk membantu penglihatan mereka.   
Hal ini mengakibatkan adanya pembagian zona di laut. Yakni di zona yang masih tembus cahaya (photic zone) dan zona tanpa cahaya (aphotic zone). Di photic zone, hidup organisme –organisme yang memiliki kemampuan untuk berfotosintesis seperti fitoplankton, terumbu karang dan organisme-organisme lain sehingga membentuk rantai makanannya sendiri. Sedangkan di aphotic zone, umumnya dihuni oleh ikan-ikan besar, cumi-cumi raksasa dan ikan-ikan dengan bentuk yang tidak wajar.
Jika para ilmuwan berhasil mengungkap hal ini baru-baru ini, Alquran telah memberi isyarat akan kondisi gelapnya laut pada surat An Nuur ayat 40, yang berarti
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun."
Alquran memang bukan kitab science, tapi Alquran memberikan banyak signs terkait fenomena alam semesta dan ke-maha besaran Allah sebagai pencipta. Contohnya pada ayat tersebut Allah memberikan isyarat bahwa kegelapan di dalam laut adalah ‘bertindih-tindih’ atau berlapis. Di sains modern pun dikenal bahwa laut juga terdiri dari lapisan-lapisan yang tembus cahaya, sedang dan sama sekali tidak ada cahaya.
 Jika kita mau sejenak merenung, bagaimana mungkin seorang Muhammad SAW yang tidak pernah menyelam ke dasar laut bisa menceritakan kondisi lautan yang gelap secara akurat? Hal ini menunjukkan bahwa Alquran ini benar-benar merupakan mukjizat dari Allah SWT.
Oleh karena itu, sebagai seorang (calon) ilmuwan muslim hendaknya semakin bertambah pengetahuan kita akan segala sesuatu seyogyanya akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, dan bukan sebaliknya.
Wallahu a’lam bish shawab.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top