Misteri cahaya di dalam laut baru
benar-benar terkuak pada sekitar abad ke20. Yakni ketika manusia
memahami tentang kekuatan spektrum cahaya dan perambatan/penyerapannya
pada medium zat cair.
Seperti yang kita ketahui bahwa sinar
matahari yang dipancarkan sebenarnya tidak hanya berwarna kuning. Akan
tetapi terdiri dari spektrum warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau,
biru, nila dan ungu. Masing-masing spektrum ini memiliki panjang
gelombangnya sendiri. Ketika sinar matahari masuk ke dalam laut,
perbedaan panjang gelombang ini mempengaruhi kecepatan penyerapan oleh
air laut.
Setiap bertambah 100 m kedalaman air
laut, kekuatan cahaya akan terserap sebanyak 1%. Pada kasus ini,
spektrum warna merah dan jingga lebih cepat terserap dibandingkan
spektrum warna biru dan hijau. Pada kedalaman 100m, spektrum warna lain
akan benar-benar terserap hingga tinggal menyisakan spektrum warna hijau
dan biru. Hal inilah yang membuat air laut yang jernih terlihat
berwarna biru kehijau-hijauan. Apabila kita menyelam lebih dalam lagi,
maka cahaya akan benar-benar habis terserap. Artinya, keadaan menjadi
gelap. Itulah kenapa, pada penyelam juga dilengkapi dengan lampu bawah
air untuk membantu penglihatan mereka.
Hal ini mengakibatkan adanya pembagian
zona di laut. Yakni di zona yang masih tembus cahaya (photic zone) dan
zona tanpa cahaya (aphotic zone). Di photic zone, hidup organisme
–organisme yang memiliki kemampuan untuk berfotosintesis seperti
fitoplankton, terumbu karang dan organisme-organisme lain sehingga
membentuk rantai makanannya sendiri. Sedangkan di aphotic zone, umumnya
dihuni oleh ikan-ikan besar, cumi-cumi raksasa dan ikan-ikan dengan
bentuk yang tidak wajar.
Jika para ilmuwan berhasil mengungkap
hal ini baru-baru ini, Alquran telah memberi isyarat akan kondisi
gelapnya laut pada surat An Nuur ayat 40, yang berarti
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun."
Alquran memang bukan kitab science, tapi Alquran memberikan banyak signs
terkait fenomena alam semesta dan ke-maha besaran Allah sebagai
pencipta. Contohnya pada ayat tersebut Allah memberikan isyarat bahwa
kegelapan di dalam laut adalah ‘bertindih-tindih’ atau berlapis. Di
sains modern pun dikenal bahwa laut juga terdiri dari lapisan-lapisan
yang tembus cahaya, sedang dan sama sekali tidak ada cahaya.
Jika kita mau sejenak merenung,
bagaimana mungkin seorang Muhammad SAW yang tidak pernah menyelam ke
dasar laut bisa menceritakan kondisi lautan yang gelap secara akurat?
Hal ini menunjukkan bahwa Alquran ini benar-benar merupakan mukjizat
dari Allah SWT.
Oleh karena itu, sebagai seorang (calon)
ilmuwan muslim hendaknya semakin bertambah pengetahuan kita akan segala
sesuatu seyogyanya akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, dan
bukan sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar