Dakwah
Is My Way
oleh Ferdiana Rose
Dakwah
itu...
Dakwah itu apaan sih? Kaya ceramah
gitu bukan? Itukan kerjaannya ustadz ustadzah aja! Aku sih ga paham banget
tentang ilmu agama, jadi aku ga bisa tuh kalo disuruh berdakwah gituan!
Lumrah banget nih kalo anak muda di
jaman sekarang pada sinis kalo disinggung tentang aktifis dakwah yang pekat
sekali dengan keagamaan. Rasa-rasanya kegiatan yang satu ini dianggap sebgai
sesuatu yang tidak keren atau semacamnya. Kebanyakan anak muda sekarang diajak
diskusi tentang agama berasa kaya ketinggalan jaman gitu, berasa ga gaul dan
sulit bergaul. Jadi orang orang berdakwah dalam prespektif kebanyakan orang itu
yang harus sarungan dan pake peci untuk laki-laki, jubah dan jilbab panjang
buat yang perempuan, terus ngomong didepan banyak orang sambil ngebahas perkara
agama dari A sampai Z. Hello.....! lu pada ga hidup di jaman penjajahan belanda
kan?
Sahabat-sahabatku sekalian, jika
pikiran kalian masih menyangkut dengan salah satu prespektif yang penulis
sebutkan diatas tadi (bahkan mungkin
semuanya), sahabat wajib mengorek lebih dalam tentang kegiatan kec abis yang
satu ini kembali. Pasalnya, dakwah dengan prespektif yang seperti itu tergolong
sempit dan sangat amat tertinggal jauh dari kenyataan dan realita yang terjadi
di era ini.
Sebelum kita berjalan lebih jauh
lagi tentang ramaja dan dakwah. Kita perlu tau seperti apa gambaran pasti
dakwah tersebut.
Jadi buat tambah-tambah ilmu nih,
penulis membuka kembali buku wajib kuliahnya semasa semester II yang lalu yang
berjudul “ Ilmu Dakwah” edisi revis
karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag. Didalamnya beliau mennyertakan berbagai
macam definisi dari para ahli mengenai dakwah. Diantaranya adalah,
1. Aboebakar
Atjeh (1971: 11), dakwah adalah sperintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang
ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik.
2. Jamaluddin
Kafie (1993: 28), dakwah adalah “suatu sistem kegiatan dari seseorang,
kelompok, atau segolongan umat Islam sebagai aktualisasi immaniyah yang dimanifestasikan dalam bentuk seruan, ajakan, panggilan, undangan, doa yang disampaikan dengan
ikhlas dengan menggunakan metode, sistem, dan bentuk tertentu, agar mampu
menyentuh kalbu dan fitrah seseorang,
keluarga, sekelompok, massa dan masyarakat manusia, supaya dapat mempengaruhi
tingkah laku untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”
3. Barmawi
Umari (1989), dakwah adalah “mengajak
kepada kebenaran, mengerjakan perintah, menjauhi larangan, agar memperoleh
kebahagiaan dimasa sekarang dan yang akan datang.
4. M.
Arifin (1993:6), dakwah adalah “suatu kegiatan ajakan dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya
yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam usaha mempengaruhi orang lain
secara individu maupun kelompok agar supaya timbul dalam dirinya pengertian,
kesadaran, sikap, penghayatan, serta pengamalan terhadap ajaran agama, message yang disampaikan kepadanya tanpa
ada unsur paksaan.”
Nah, sahabatku sekalian.
Paparan diatas merupakan segelintir saja dari banyak pendapat ahli mengenai
dakwah. Penulis sendiri baru memhami dakwah yang sebenarnya ketika memasuki
kuliah fakultas dakwah di UIN Sunan Ampel Surabaya, bahwasannya dakwah sendiri
itu populer dengan menyeru pada kebenaran dan melawan keburukan (kalo bahasa
kerenya itu, amar ma’ruf nahi mungkar),
jadi ga cuman slogan yang ada di serial tv gitu.
Dakwahnya
Darah Muda
Jika
dizaman ini saya bertanya pada teman sebaya saya tentang a pa itu dakwah?
Jawaban pertama yang sering saya dengar dari lontara bibir mereka ialah,
ceramah. Setidaknya dugaan itu terbukti ketika saya menyampaikan sebuah
presentasi yang berjudul “Dakwah Untuk Negeri” dalam sebuah Pelatihan Karya
Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh salah satu fakultas di kampus saya.
Mengapa demikian? Ya, memang karena kegiatan dakwah ini erat sekali kaitannya
dengan proses ceramah di majlis-majlis dalam maupun luar masjid. Definisi
tersebut tidaklah salah, namun yang demikian merupakan pemikiran yang sangat
sempit.
Alhamdulillah,
atas izinNya saya diberi kesempatan untuk mencuri ilmu dari banyak dosen yang
mengajar dijrusan saya (Komunikasi dan Penyiaran Islam). Sedikit banyak
paradigma saya mengenai definisi, esensi dan urgensi dakwah lambat laun berubah
dan berkembang. Penyajian materi yang dibenturkan oleh fakta dan realita mampu
mengubah haluan calon da’i da’iah muda dalam mengemban tugas dakwahnya.
Kita
mulai dari definisi dakwah itu sendiri, yang memiliki arti secara umum dengan
kalimat “amar ma’ruf nahi mungkar”. Menyeru pada kebaikan dan mencegah yang
mungkar, percis dengan slogan pahlawan anak-anak di televisi “membela kebenaran
dan membrantas kejahatan.” Jika kita ambil kaya menyeru pada kebaikan, bukankah itu tidak hanya sekedar ceramah
saja? Dan juga bukan hanya tugas anak rohis di SMA ataupun Lembaga Dakwah Kampus saja yang melakukannya, setuju?
Sebagai contoh, beberapa saudara seiman yang tengah menempuh kuliahnya
perguruan tinggi ITS sudah mampu membuat sebuah karya inofatif dan kreatif yang
tujuannya untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan khalayak luas guna
mempermudah suatu pekerjaan. Bukankah mereka juga pahlawan? Tak peduli sebesar
apa materi yang disumbangngkan otek cerdas nan brilian mereka, mereka berusaha
menjawab dan mengentaskan persoalan juga permasalahn yang ada.
Maka
esensinya bagi anak muda semakin jelas dan nyata. Hakikat berdakwah sendiri
harus dipandang luas dan tidak hanya sekedar berlatih retorika namum
implemantasi dan tindakan nyata. Ini baru penjelas dan penebal semboyan
mahasiswa yang notaben nya mantan murid sekolahan sebagai agent of change.